SEJARAH BEDAH PLASTIK FKUI

Program studi Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia merupakan suatu program studi yang didirikan pada tahun 1989 dengan urat keputusan No. 107/DIKTI/Kep/1989 pada 1 Nopember 1989 oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi: Sukadji Ranuwihardjo. Program studi ini merupakan program studi Ilmu Bedah Plastik pertama di Indonesia. Berdasarkan surat keputusan tersebut, maka tanggal 01 Januari 1990 program studi ini mulai menyelanggarakan kegiatan belajar mengajar yang terintergarsi dengan kegiatan pelayanan pada pasien.

Selama kurang lebih 27 tahun, program studi ilmu bedah plastik terus melakukan pengembangan dan perbaikan untuk kemajuan ilmu bedah plastik di Indonesia agar mampu memberikan kontribusi pada pendidikan tinggi Indonesia dan juga menghasilkan lulusan spesialis bedah plastik yang turut serta memberikan kontribusi pada dunia kedokteran nasional dan internasional.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) adalah institusi pendidikan pertama di Indonesia yang menyelenggarakan program pendidikan ilmu bedah plastik. Program pendidikan ilmu bedah plastik FKUI diresmikan pada tahun 1980. Dengan 8 staf pengajar dan 3 staf pengajar luar biasa, program studi bedah plastik FKUI saat ini telah berkembang menjadi beberapa sub-divisi, yaitu:

  1.  Kraniofasial
  2. Genitalia ekstern
  3. Bedah tangan
  4.  Luka bakar
  5. Luka kronik dan rekonstruksi pascaablasi tumor
  6. Bedah mikro
  7. Bedah estetik

 

Pada tahun  2010, dibangun Gedung Center Medical Unit (CMU3) yang berfungsi sebagai gedung pelayanan bagi dua Unit Pelayanan Khusus Divisi Bedah Plastik, yaitu UPK-Luka Bakar dan Cleft & Craniofacial Center (CCC), yang resmi pindah ke lantai 2 sejak 14 Juli 2011.

1. Cleft and Craniofacial Center

Pada tahun 1987, pelayanan trauma kraniofasial di RSCM dilakukan dengan peralatan pendukung yang sederhana atau peralatan hasil modifikasi untuk dapat memenuhi pelayanan bagi pasien kraniofasial. Sejak tahun 1992, perkembangan kraniofasial mulai berjalan, kemudian mengalami perkembangan pesat sejak tahun 2000. Pada tahun 2005, mulai terbuka kesempatan bagi dokter dan tenaga medis di RSCM untuk mendalami bidang kraniofasial dengan mengikuti program fellowship ke Chang Gung Memorial Hospital, Taoyuan,Taiwan.

Saat ini Cleft and Craniofacial Center telah berkembang pesat dan memiliki lingkup pelayanan sebagai berikut:

A. Sumbing Bibir dan Langit-langit

  • Operasi sumbing bibir (labioplasty)
  • Operasi sumbing langit-langit (palatoplasty)
  • Orthodonti (naso alveolar molding, lip taping, nasal retainer, feeding obturator, alveolar bone graft)
  • Rehabilitasi medik (terapi bicara, penilaian dan stimulasi cara memberi makanan dan stimulasi motorik)
  • Psikiatri (konseling)

B. Kelainan Kraniofasial (Kepala dan Wajah)

  • Frontoethmoid meningoescephalocele (MEA)
  • Mikrotia dan kelainan kongenital daun telinga lain
  • Fraktur tulang wajah
  • Facial cleft
  • Hemifacial microsomia
  • Kraniosinostosis sindromik
  • Defek kraniomaksilofasial pascablasi tumor
  • Craniofasial fibrous dysplasia
  • Facial nerve palsy
  • Kelainan dentofasial, dll

2. Unit Pelayanan Khusus Luka Bakar (UPKLB)

UPK-Luka Bakar didirikan dengan dana bantuan dari  pemerintah DKI Jakarta sebagai respon atas musibah kebakaran kapal tanker di Tanjung Priok pada tahun 1978. Pada tahun 1996 SK Direktur RSUPNCM no. 046/TU.K/34/1/1996 diterbitkan sehingga Unit Luka Bakar diubah namanya menjadi Unit Pelayanan Khusus Luka Bakar (UPKLB) Prof. Dr. dr. Moenadjat Wiraatmadja.

Unit Pelayanan Khusus Luka Bakar adalah unit yang melayani pasien luka bakar dengan pendekatan tim interdisiplin (Divisi Bedah Plastik, Departemen Anastesiologi dan Perawatan Intensif, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Departemen Penyakit Dalam, Departemen Rehabilitasi Medik, Departemen Gizi Klinik, dan Departemen Kesehatan Jiwa). Fasilitas UPKLB yang ada pada saat ini yaitu unit ICU, unit HCU, kamar operasi, ruang konferensi dan skin bank (belum beroperasi).

SEJARAH BEDAH PLASTIK INDONESIA

Bedah Plastik di Indonesia dirintis oleh Prof. Dr. dr. Moenadjat Wiratmadja, setelah lulus sebagai ahli bedah dari FKUI pada tahun 1958. Beliau merintis bedah plastik pada tahun 1959 sepulang beliau dari pendidikan bedah plastik di Washington University/Barnes Hospital Amerika Serikat. Beliau mulai mengkhususkan diri memberikan pelayanan dan pendidikan bedah plastik pada mahasiswa dan “asisten” bedah, serta dikukuhkan sebagai guru besar dalam Ilmu Kedokteran FKUI pada tahun 1970.  Beliau wafat pada tahun 1980.

Pada tahun 1980 didirikanlah Perhimpunan Ahli Bedah Plastik dan Rekonstruksi Indonesia. Dua tahun kemudian, nama perhimpunan diubah menjadi Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia, disingkat PERAPI (www.perapisurgeon.com) dan didaftarkan di Jakarta dengan akte notaris sebagai badan hukum oleh beberapa tokoh senior sebagai berikut:

  1. dr. Bayu Nugroho
  2. dr. Sidik Setiamihardja
  3. dr. Bisono
  4. dr. Djohansjah Marzoeki
  5. dr. August J. Rieuwpassa
  6. dr. Herwandar Sastrasupena
  7. dr. Soemintha Bisma Djaya
  8. dr. F. X. Soetoko
  9. dr. R. Soedibyo
  10. dr. Buchari Kasim

Saat ini anggota PERAPI mencapai hampir 200 dokter bedah plastik yang tersebar di Indonesia.